Merayakan Perbedaan Menikmati Keragaman

logo-icrs-10-b

Hidup di desa dan menjadi masyarakat desa, dengan segala kekhasannya bagi saya adalah karunia Tuhan yang wajib disyukuri. Berkah tinggal di desa salah satunya akan banyak menemui keragaman watak dan corak masyarakat. Termasuk agama. Rasa syukur selanjutnya yaitu menjadi orang beragama dan memiliki tetangga dengan beda agama. Dari sini, kami belajar mengerti dan pentingnya sebuah arti kerukunan. Dan kami pun bisa merayakan perbedaan serta menikmati keragaman sejak dulu kala. keragaman-keragaman yan  bisa dilihat dan dialami di desa desa yang ada di kecamatan Bangorejo, Purwoharjo dan masyoritas di kecamatan yang ada di kabupaten Banyuwangisli-_melasti_(16)[1]

Di tempat kami, Keberagaman dalam beragama nyaris lengkap. Mulai dari agama-agama yang diresmikan oleh negara dengan mayoritas Islam, Hindu dan Nasrani, pun agama-agama leluhur dan yang terbaru mungkin Bahai. Semuanya ada dan bisa ditemui dengan jelas. Apa kesamaan dari mereka, semuanya bisa menempatkan diri sebagai bagian dari bangsa dan tetangga. Maka, kekuatan kami akan tampak dalam satu tim sepak bola voli atau sepak bola, keragaman agama di dalamnya tentu memunculkan doa dengan berbagai cara pula, dan ini berkah.

Islam, sebagai salah satu agama mayoritas juga bisa menjadi dominasi musik keharmonisan dengan iringan-iringan keakraban pemeluk lainnya. Bulan puasa di tempat kami tidak lantas menjadikan umat Islam berubah menjadi alim bulanan. Masyarakat muslim di desa menyikapi bulan puasa sebagai kesempatan mereka untuk bersabar dengan cara yang indah dan kekinian.

Urusan lapar dan godaan makanan bagi kami telah selesai. Bahkan, jika kita mau makan di siang hari saat bulan puasa, tempat yang paling aman justru ada di rumah muslim. Guyonan ini mungkin terdengar keterlaluan. Namun, percaya atau tidak, siapa pun anda,  jika berkunjung k erumah penduduk di desa-desa dengan keragaman pemeluk Agama. Pasti akan menjumpai sapa akrab dari keluarga muslim sembari menawarkan “ Puasa atau tidak “ kepada tamu. Jika tidak puasa , tidak peduli KTP Anda berbunyi Islam atau lainnya, maka tuan rumah tidak segan akan membuatkan minum untuk Anda.

Apakah ini bentuk sekuler atau liberal yang sering ditakutkan sebagian orang, saya jawab tidak. Masyarakat desa sudah dewasa. Setiap individu memiliki permakluman atas dirinya dan juga kepada sesama.

IMG_0547

Pak Riono (kiri), pengurus Vihara Dhama Harja Desa Yosomulyo menerima kunjungan dari tetangga pada momen Waisak Mei 2016 lalu

Tidak hanya momen puasa, saat Waisak berlangsung, para keluarga Budhis juga terlihat santai dan senang saat ada kunjungan dari tetangganya yang berpakaian rapi dan mengenakan hijab. Tidak jarang, obrolan di ruang tamu rumah-rumah yang berderet deret di sekitar Vihara ini diramaikan dengan lagu-lagu salawat yang terdengar dari layar televisi. Beragama bagi masyarakat desa merupakan keniscayaan yang asyik.

Kami bisa berbaur namun bukan berarti mencampur aduk ajaran. Bagi kami, setiap momen hari besar agama adalah perayaan kami untuk bersuka ria dengan cara kami. Para penjual akan senang saat banyak kegiatan atau pun upacara-upacara dilangsungkan. Saat pawai ogoh-ogoh berlangsung, umat lain  pun menjadi penyemangat pertama.

Maka kami pun menjadi bertanya-tanya, saat masyarakat kota yang katanya  modern sering kali memaksakan diri dan pikirnya beradu di lini masa jejaring maya. Ada baiknya kemasilah pakaian  anda dan berkunjunglah ke desa.(*)

#celebratediversity; #10tahunicrs

“artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa”

 

Malaikat itu Kini Bermekaran

tetes air

tetes air

Kalau judulnya dibilang terlalu ketinggian ya biarlah. Sebenarnya secara personifikasi, lebih manusia kata Nabi dibanding Malaikat. Tapi keyakinanku mengatakan nabi hanya berhenti pada Muhammad dan nabi nabi di agama lainnya.
Aku memilih malaikat, ya sebutan ini bagiku lebih dekat dengan orang dan lebih aman. Perumpamaan malaikat aku sematkan kepada mereka. Sekumpulan insan yang tidak memiliki tanggung jawab literlejk, namun kepedulian itu lahir dari ubun-ubun yang selalu tersiram segarnya kopi pahit, dan mungkin juga bir. Mungkin, bir bimakna goodness. Hihihi

Ada yang bergerak menyalurkan kepedulian terhadap kaum papa, ada yang tergerak menyuarakan pentingnya kepustakaan.

aksi keren penggiat literasi

aksi keren penggiat literasi

Dianggap berlebihan juga tidak apa-apa sih. Toh pernyataanku tidak berpengaruh terhadap aksi baik mereka. saya salut kepada mereka, paramuda yang peduli sesama ketika yang lain hanya bisa mengamati dan menilai tanpa memulai.
Mengutip guyonan EAN, mereka ini adalah kelompok Saleh sesungguhnya. Saleh yang bermutasi dari frasa biSA menoLEH. Menoleh ketimpangan yang ada di sisi kanan atau pun kanannya.
Mereka sedang berjualan Bir tanpa berniat terpengaruh adiksi pencitraan. Kalaupun demikian ya tidak masalah, dari mereka oleh mereka buat sesama  yang membutuhkan.
Berbuat baik itu hebat, kalau disertai tulus ya makin oke. Kalau pamrih, anda tetap berbuat baik.
Bergerak dan menggerakan. Peduli dan beraksi.

Tulisan ini penggennya puannjang  komprehensif, tapi apalah daya godaan ngopi lebih menendang. aku salut padamu Tetes Air, Rumah Literasi Banyuwangi dan aksi-aksi muda keren lainnya.