Ragam Kita, Perayaan Kita

Niat nulis ini muncul setelah satu dari lima aplikasi layanan pesan di gawai berbunyi “Kluntung 3X”; dan terlaksana setelah PC terserang gangguan virus.


*******

Tiga jam sebelum Kita ngopi bareng di kafe yang ciamik itu, saya panjang lebar menghabiakan paketan telepion gratis yang daftarnya bayar 2000 an. Kita, saya dan seorang teman Walaka membincangkan soal penjor milik salah satu Sarati di Pura Dhama Marga yang berada di Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi Penjor yang Kita bicarakan tersebut, jika di lihat dari jalan raya, ekor penjor yang menjuntai itu beriringan dengan kubah masjid. Maklum, rumah Sarati tersebut berada di belakang masjid. Setiap waktu, yang saya ingat setelah penjor itu terpasang. Adik-adik yang berangkat TPQ melewati gang kecil antara rumah dan masjid itu selalu menyempatkan melirik ya penjor itu merupakan keindahan umat manusia dalam melakukan ikhtiar sebagai manusia beragama, keindahan yang juga sama dengan indahnya kaligrari kufi di dalam Masjid, Tuhan memang menyukai hal –hal yang indah.

*****

Malam itu, di antara tatanan kursi yang berbeda –beda dan di bawah godaan aroma berbagai macam kopi yang telah disangrai dan siap disajikan dengan harga mulai IDR 7 K. Kita, para muda yang juga memiliki nomor ukuran celaan berbeda-beda pun duduk dalam posisi  berbeda. Tapi Kita semua duduk dan juga bercelana. Seingatku, celana yang saya pakai merupakan celana jenis made by order. Sementara teman satunya memakai celana revolusi tiga perempat, dan satu teman saya, saya lupa celananya tapi dia pakai kaos oblong. dan begitu juga yang lain. Intinya Kita bercelana untuk menjaga etika Kita di tempat umum.

Selain celana, Kita pun memesan camilan berbeda tapi dengan rasa yang sama. Sama-sama enak dan nikmat. Kecuali merek rokok bagi yamg merokok, , untuk malam itu Kita disatukan oleh sruputan baru berupalemon tea, racikan Abah-Rista Filosofi Kopi tanpa paste. Ya sebuah minuman wedang teh yang diberi tambahan irisan jeruk pecel. Rasanya anget-anget enak-(mungkin ) seperti pelukanmu sayang….

Malam itu, obrolan Kita berisi macam-macam topik. Dari yang hangat seperti pengalaman kami nembak anaknya guru Fisika saat jam pelajaran olahraga, sampai tema-tema yang agak dingin seperti kisah mas ini bareng  cewek yang itu deh di gunung Ijen….; Tiba-tiba kemudian beberapa saat-saat teman saya yang jagoan illustrator sekaligus ayah yang keren bagi anak istrinya. Obrolan Kita pun belok kiri dari soal Festival di Banyuwangi agak ngegass soal agama. waow….. Agama. Deski tidak ada yang lahir dari rahim seorang istri PNS Kementerian Agama, kita beranikan diri bahas agama. dan ternayat benar, malamitu sudah ada yang melakukan motto kementerian yang dipimpin pak Menteri gaul nan Moderat ini

Beragama bagi Kita adalah cara menjadi manusia dengan ceria gembira dan tepa selira. Akan sangat berdosa jika Kita, para penggemar permen karet Yosan ini tidak bangga dengan keragaman yang ada. Termasuk soal agama. Beragama bagi Kita itu hal keniscayaan, sesuai sila pertama Pancasila. dan dengan menghormati agama pula kami bisa mengiusi hari-hari di tengah masa sekolah dengan liburan. libur hari besar keagamaan yang dirayakan bersama oleh penganut agama apa pun. Kalau jalan yang Kita tempuh beragam ya itu karena  mengikuti kata hati yang paling luar dan juga dalam, itu urusan masing-masing. Memilih beragama dan menjadi beragam. Dan karena itulah Kita Rukun.

TUBIKONTINYUT…..
sumber foto atas http://www.moslemforall.com/wp-content/uploads/2015/04/budayaku.jpg

foto bawah http://azizahnurarif.blogspot.co.id/2013/11/pengaruh-perbedaan-agama-terhadap_7789.html