Hari Raya Agama Bahai pun Dirayakan

Screenshot_2016-03-20-19-25-42

Kemarin, sebuah pesan singkat masuk nomor saya, nomor dengan akhiran angka sembilan milik operator yang katanya paling  Indonesia. Kurang lebih isi pesan tersebut memberitahukan tentang hari raya agama Bahai. Tentu, sms tersebut dikirim saudara saya. Bukan saudara kandung, tapi sudara sebangsa. jika hal demikian , maka dia juga saudara anda.

Tentang Hari Raya Agama Bahai, terlepas dari model dan isi di dalamnya. Tentu ini hari raya dan hari yang berisi kegembiraan bagi mereka, termasuk bagi saya. Membaca pesan tersebut, terasa seperti melihat sebuah prasasti kerukunan dan kebebasan beragama .

Agama Bahai, bagi saya sendiri bukan istilah baru, sejak MI (SD) saya telah mendengar  nama ini. Baik di sekolah saya yang NU banget atau  pun di rumah saya.  Meski baru bisa berbincang secara langsung dengan pemeluk agama ini sekitar dua tahun silam.

Posisi Bahai  di tengah masyarakat memang pernah dianggap sebelah mata. Keberadaan mereka kurang dianggap oleh tetanggganya. Namun, Alhamdulillah kondisi itu berlangsung tidak lama. Masyarakat sudah lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Kondisi ini mirip dengan kondisi yang dialami siapa pun dengan latar belakang minoritas. (Termasuk jomblo saat kondangan, eh).

Sejauh yang saya ketahui, penganut agama Bahai di kota ini sama tidak berbeda dengan penganut Islam, Nasrani, Hindu , Budha, Konghucu maupun penganut agama lainnya. Mereka baik, anak mereka juga berprestasi, sama dengan yang lain, mereka juga ramah. Dan yang perlu diketahui tetangga mereka yang beragama lain juga ramah. Kalimat ini sekaligus sebagai pernyataan bahwa keberagamaan dan keberagaman di kotaku sangat baik.

Saya merasa  bersyukur bisa mengenal keberagaman ini dengan bingkai kerukunan yang baik. Beruntung, saya mengenal nama Bahai jauh jauh hari sebelum kemunculannya di media massa yang sering diributkan orang. Saya selalu merasa bersyukur ketika mengenal dan memahami apa pun itu dari penuturan orang tua, teman dan buku. Bukan dari media belakangan ini yang kadang seperti “ Berteriak asinkan keringatmu di tengah lautan”.

Saya juga berterima kasih kepada orang tuakuyang keren. Sejak saya kecil, mereka mendoktrinkan apa yang mereka anggap benar  dan b aik serta sesuai dengansaya. Sekaligus mengenalkan perbedaan tanpa kebencian.