Kami Sama dan Kami Beda Maka Kami Rukun

pak Arko Widayakso (tengah) bersma istrinya saat berbincang dengan pak Muslih di teras tengah rumahnya

Pak Arko Widayakso (tengah) bersama istrinya saat berbincang dengan pak Muslih di teras tengah rumahnya

Semakin besar keyakinan saya, orang Indonesia itu rukun. Kerukunan di Indonesia itu mengalir deras seperti keluk asap rokok. Ada di mana saja dan begitu saja. tanpa koar- koar yang bikin jengah.

Kerukunan setiap hari begitu mudah saya temukan di sekitar saya, bentuknya bermacam-macam. Jika sudah demikian, sering saya pun berpikir. Kenapa di Jakarta dan beberapa kota dan daerah lain, untuk rukun saja harus pakai pengumuman seperti sosialisasi. Saya bersyukur, beberapa waktu lalu melihat kembali kerukunan yang Terbungkus kerja sama di warga, saya temukan ini di Bangorejo. Banyuwangi secara umum, khususnya kawasan selatan seperti Bangorejo memang “oke” untuk teladan kerukunan

Salah satu warna kerukunan yang aku saksikan belum lama ini ada di rumah Pak Arko Widayakso. seperti halnya rumah yang di Dusun Kedungagung Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo ini. Warna warni dan ragam patung yang ada di halaman rumahnya terlihat indah, kerukunan bagi saya juga tidak beda dengan keindahan tersebut saling melengkapi.

Sedikit cerita, rumah kakek satu cucu dan satu putra ini penuh sesak dengan hiasan patung. Pemeluk Protestan ini sangat mencintai patung sejak tiga tahunan. Untuk mewujudkan kesukaannya tersebut, dia pun dibantu pak Sutikno, ahli patung yang juga penganut Hindu taat dari kecamatan Pesanggaran. Ada banyak patung dengan berbagai motif, mulai satu set cerita Ramayana, sampai patung buah naga. Tidak ketinggalan, patung Yesus juga dia miliki.

IMG_8478
Penggemar sepeda tua ini juga cukup telaten, untuk membangun rumahnya, dia lebih suka  membuat sendiri kebutuhan yang diperlukan. Misalnya batako, untuk urusan itu sudah sejak dulu dia dibantu pak Muslih, dari namanya jelas terlihat pak Muslih ini Muslim. Insyaallah muslim yang baik.

Bagi saya, menjadi manusia beruntung itu jika kita memiliki keragaman silaturahmi dan bisa menjaganya secara baik dan rukun.

Kasare omong, paling beruntung punya tetangga berbeda keyakinan dan kita bisa bertetangga dengan baik dengannya.Bagi Muslim, bukankah ini yang dicontohkan Muhammad SAW..