Malaikat itu Kini Bermekaran

tetes air

Kalau judulnya dibilang terlalu ketinggian ya biarlah. Sebenarnya secara personifikasi, lebih manusia kata Nabi dibanding Malaikat. Tapi keyakinanku mengatakan nabi hanya berhenti pada Muhammad dan nabi nabi di agama lainnya.
Aku memilih malaikat, ya sebutan ini bagiku lebih dekat dengan orang dan lebih aman. Perumpamaan malaikat aku sematkan kepada mereka. Sekumpulan insan yang tidak memiliki tanggung jawab literlejk, namun kepedulian itu lahir dari ubun-ubun yang selalu tersiram segarnya kopi pahit, dan mungkin juga bir. Mungkin, bir bimakna goodness. Hihihi

Ada yang bergerak menyalurkan kepedulian terhadap kaum papa, ada yang tergerak menyuarakan pentingnya kepustakaan.

aksi keren penggiat literasi

aksi keren penggiat literasi

Dianggap berlebihan juga tidak apa-apa sih. Toh pernyataanku tidak berpengaruh terhadap aksi baik mereka. saya salut kepada mereka, paramuda yang peduli sesama ketika yang lain hanya bisa mengamati dan menilai tanpa memulai.
Mengutip guyonan EAN, mereka ini adalah kelompok Saleh sesungguhnya. Saleh yang bermutasi dari frasa biSA menoLEH. Menoleh ketimpangan yang ada di sisi kanan atau pun kanannya.
Mereka sedang berjualan Bir tanpa berniat terpengaruh adiksi pencitraan. Kalaupun demikian ya tidak masalah, dari mereka oleh mereka buat sesama  yang membutuhkan.
Berbuat baik itu hebat, kalau disertai tulus ya makin oke. Kalau pamrih, anda tetap berbuat baik.
Bergerak dan menggerakan. Peduli dan beraksi.

Tulisan ini penggennya puannjang  komprehensif, tapi apalah daya godaan ngopi lebih menendang. aku salut padamu Tetes Air, Rumah Literasi Banyuwangi dan aksi-aksi muda keren lainnya.